Universitas Negeri Malang kukuhkan 5 guru besar di pertengahan 2023
Elshinta.com, Universitas Negeri Malang mengukuhkan 5 guru besar bergelar profesor di pertengahan 2023.

Elshinta.com - Universitas Negeri Malang mengukuhkan 5 guru besar bergelar profesor di pertengahan 2023.
Ketua Komisi Guru Besar UM, Prof. Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.Pd mengatakan, ke lima guru besar tersebut masing-masing Prof.Dr.Siti Nurrochmah, M.Kes (Bidang Ilmu Pembelajaran Gerak dan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan), Prof. Dr. Alif Mudiono, M.Pd; Prof. Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc (Bidang Kimia Analitik Lingkungan, Fakultas MIPA ) dan Prof. Dr. Evi Susanti, Ssi, MsI (Guru Besar Biokimia Fakultas MIPA) serta Prof. Dr. Hakkun Elmunsyah St.,Mt (Fakultas Tehnik).
"Dengan demikian total Guru Besar bergelar Profesor berjumlah124 orang," katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, El Aris, Senin (17/7).
Prof. Dr. Hakkun Elmunsyah St., Mt, salah satu profesor UM mengungkapkan dirinya memfokuskan pada analisis kualitas dan keberhasilan Learning Management System dengan DeLone and McLean’s Model.
“Tujuan analisis ini untuk mengetahui kualiatas dan tingjat keberhasilan LMS diklat PPG keahlian TKI yang di gunakan selama 2020 sampai dengan 2021” ungkap guru besar bidang media pembelajaran tehnik komputer dan Informatika Vokasi Fakultas Tehnik UM.
Sementara Prof.Dr.Siti Nurrochmah,M.Kes dari Fakultas Keolahragaan memfokuskan pada gerak.
“Untuk melakukan pembelajaran gerak maka ada tiga elemen masing-masing, teori gerak, belajar gerak dan perkembangan gerak dimana semua itu disesuaikan dengan usia, kemampuan yang mengacu pada pembelajaran di tingkat pendidikan SD,SMP dan SMA sederajat,” tandasnya.
Prof.Dr.Sc.Anugrah Ricky Wijaya,M.Sc (Bidang Kimia Analitik Lingkungan Fakultas MIPA ) lebih menekankan pada analisis sidik jari dari sumber industri.
“Kita punya beberapa alat yang mirip detektor yang gunakan rasio isotop sehingga sebagai data base yang penting bagi pemerintah guna melindungi alam meski alam juga ada limbahnya namun akan beda dibandingkan dengan industri.” ujar lulusan salah satu Universitas di Okinawa, Jepang tersebut.
Hanya saja alat untuk lakukan analisis rasio logam isotop sidik jari pada limbah hanya ada di Jepang dan Cekoslovakia.
Namun semua itu, lanjutnya dapat dilakukan sesuai dengan kebijakan dari pemerintah dapat dilakukan sebagai upaya melindungi alam. Pada penelitian tidak hanya di luar negeri namun juga dari dalam negri dimana untuk limbah sidik jari di Indonesia.
“Yang mengembirakan hampir semua limbah sidik jari tidak mengandung yang berbahaya atau timbal dan Plumbum (PB) karena masih mengandung alam. Dan dari sini kita harus belajar agar tidak membuang sampah sembarangan,” ringkasnya.